Sementara itu, Rickman Roedavan menekankan pentingnya pemahaman ekosistem bagi guru. Menurutnya, literasi industri akan membantu pendidik membimbing siswa secara realistis. “Siswa perlu tahu bahwa industri gim membuka banyak peran, bukan hanya programmer atau artist,” katanya.
Implementasi nyata terlihat pada kegiatan sosialisasi Digigame yang digelar akhir Desember lalu di Point Arena POS Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 30 peserta, terdiri dari guru SMK se-Jawa Barat, asesor BNSP, penggiat komunitas, founder digital academy, serta perwakilan ekonomi kreatif Jawa Barat.
Forum ini tidak hanya berisi pemaparan satu arah, tetapi juga dialog terbuka mengenai tantangan kurikulum, kebutuhan industri, dan peluang kolaborasi konkret antara sekolah dan pelaku industri.
Memasuki 2026, Digigame menetapkan fokus pada fase Engage sebagai pondasi strategis. Sosialisasi akan diperluas ke lebih banyak guru SMK di Jawa Barat sebelum berlanjut ke fase Educate dan Elevate, sejalan dengan target Perpres 19/2024.
Di tengah cepatnya laju industri digital, Digigame memilih jalur sunyi namun fundamental: membangun kesadaran manusia sebelum membangun produk. Sebab bagi Digigame, industri gim yang kuat lahir bukan dari tren, melainkan dari ekosistem yang dipahami bersama.***





